AC Milan sempat cetak gol terlebih dahulu, tetapi penampilan yang tidak konsisten membuat mereka tersingkir secara memalukan. (Foto: Istimewa)
Jakarta–AC Milan harus menelan pil pahit setelah tersingkir dari Liga Champions akibat hasil imbang 1-1 melawan Feyenoord di San Siro, Selasa malam. Hasil ini membuat agregat menjadi 2-1 untuk keunggulan Feyenoord, mengakhiri perjalanan Rossoneri di kompetisi elit Eropa musim ini.
Pertandingan sebenarnya dimulai dengan sangat baik bagi Milan. Baru satu menit berjalan, Santiago Giménez berhasil mencetak gol ke gawang mantan klubnya, memanfaatkan umpan balik dari Malick Thiaw. Gol cepat ini seharusnya menjadi momentum bagi Milan untuk membalikkan keadaan setelah kekalahan 1-0 di leg pertama.
Namun, alih-alih mempertahankan dominasi, Milan justru melakukan serangkaian kesalahan yang berujung fatal. Puncaknya terjadi pada menit ke-51 ketika Theo Hernández menerima kartu kuning kedua akibat simulasi di kotak penalti lawan. Keputusan tidak sportif ini membuat Milan harus bermain dengan 10 orang, mengubah dinamika pertandingan secara drastis.
Bermain dengan kekurangan pemain, Milan kesulitan menahan gempuran Feyenoord. Pada menit ke-73, Julian Carranza yang baru masuk sebagai pemain pengganti berhasil menyamakan kedudukan melalui sundulan memanfaatkan umpan silang Hugo Bueno.
Gol ini memastikan langkah Feyenoord ke babak 16 besar, sementara Milan harus mengubur impian mereka di kompetisi ini. Penampilan buruk Milan tidak lepas dari evaluasi sang pelatih, Sergio Conceicao. Ia menegaskan bahwa kegagalan ini adalah tanggung jawabnya dan bukan sepenuhnya kesalahan Hernández. Conceicao menyoroti kurangnya efektivitas tim dalam memanfaatkan peluang dan menekankan perlunya peningkatan ketahanan mental di skuadnya.
Kartu merah yang diterima Hernández menjadi sorotan utama. Bek kiri asal Prancis ini sebelumnya sudah menerima kartu kuning di babak pertama karena pelanggaran tidak perlu. Tindakan simulasi yang berujung kartu kuning kedua menunjukkan kurangnya disiplin dan profesionalisme, yang sangat merugikan tim di momen krusial.
Dengan tersingkirnya Milan dari Liga Champions, fokus kini beralih ke kompetisi domestik. Namun, tanpa perbaikan signifikan dalam disiplin dan performa, terutama dari pemain kunci seperti Hernández, harapan untuk meraih prestasi di sisa musim ini tampak suram. (RT)